Dewa 19 Salah satu band paling berpengaruh, dengan karya-karya legendaris dan vokalis yang bergantian

Dewa 19, band berpengaruh dengan karya legendaris dan deretan vokalis yang membentuk perjalanan musik Indonesia

Bayangkan sejenak kita kembali ke era 90-an. Di tengah riuh rendahnya kancah musik Indonesia, sebuah entitas musik dari Surabaya mulai menggeliat, membawa warna baru yang kelak akan mengubah peta industri selamanya. Mereka menamakan diri Dewa 19. Sejak saat itu, nama ini bukan sekadar nama band, melainkan sebuah monumen. Saat pertama kali mendengar alunan melodi dan lirik puitis mereka, ada satu kesan yang tertancap kuat: ini bukan musik biasa. Ini adalah sebuah karya seni yang kompleks, emosional, dan melampaui zamannya. Inilah kisah tentang Dewa 19 salah satu band paling berpengaruh, dengan karya-karya legendaris dan vokalis yang bergantian, sebuah saga musikal yang tak lekang oleh waktu.

Key Takeaways

  • Best For: Penggemar musik Indonesia, Baladewa (sebutan untuk fans Dewa 19), dan siapa saja yang ingin memahami fenomena dan evolusi sebuah band legendaris.
  • Key Feature: Kemampuan luar biasa untuk berevolusi secara musikal sambil mempertahankan identitas inti, meskipun melalui pergantian vokalis yang ikonik.
  • Rating: ★★★★★ (5/5)

Era Musikal & Vokalis Ikonik: Empat Babak Sebuah Legenda

Perjalanan Dewa 19 dapat diibaratkan seperti sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh seorang raja visioner, Ahmad Dhani, namun dengan para panglima perang (vokalis) yang silih berganti memimpin pasukan di garis depan. Setiap panglima memiliki karisma dan gaya tempur yang berbeda, membawa kerajaan menuju kemenangan dengan cara yang unik. Inilah yang membuat diskografi mereka begitu kaya dan dinamis.

Babak Pertama: Era Ari Lasso (1991-1999) - Roh Rock yang Mentah dan Emosional

Inilah fondasi dari kerajaan Dewa 19. Bersama Ari Lasso, Dewa 19 adalah perpaduan sempurna antara keliaran rock, balada yang menyayat hati, dan lirik-lirik puitis yang cerdas. Suara Ari Lasso yang serak, melengking tinggi, dan penuh penjiwaan menjadi medium sempurna untuk menyampaikan lirik-lirik Dhani yang saat itu banyak berkisah tentang cinta, pencarian jati diri, dan kegelisahan kaum muda.

Album seperti "Dewa 19" (1992) dengan hits "Kangen" dan "Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi" langsung menempatkan mereka di puncak. Mereka tidak terdengar seperti band lain. Ada sentuhan jazz, pop, dan rock yang dilebur menjadi satu. Puncaknya adalah album "Pandawa Lima" (1997). Album ini, menurut analisis kami, adalah mahakarya era pertama. Lagu seperti "Kirana" dan "Cinta 'kan Membawamu Kembali" bukan hanya lagu, melainkan potret sonik dari sebuah generasi. Energi Ari Lasso yang meledak-ledak di panggung, dipadukan dengan aransemen musik yang semakin kompleks dari Dhani, Andra, Erwin, dan Wong Aksan (kemudian Tyo Nugros), menciptakan sebuah formula magis. Era ini adalah tentang gairah yang murni dan kekuatan lirik yang lugas namun dalam.

Babak Kedua: Era Once Mekel (1999-2011) - Kemegahan Pop-Rock Orkestral

Kepergian Ari Lasso adalah sebuah pukulan telak. Banyak yang meramalkan Dewa 19 akan tamat. Namun, Ahmad Dhani adalah seorang ahli strategi. Ia tidak mencari pengganti Ari Lasso; ia mencari warna baru. Masuklah Elfonda "Once" Mekel, seorang vokalis dengan jangkauan vokal yang luar biasa luas dan karakter suara yang lebih jernih dan kuat.

Jika era Ari Lasso adalah tentang rock yang mentah, era Once adalah tentang kemegahan. Album "Bintang Lima" (2000) adalah sebuah pernyataan. Ini bukan lagi band rock alternatif dari Surabaya; ini adalah fenomena pop-rock kolosal. Dengan hits seperti "Roman Picisan", "Dua Sejoli", dan "Risalah Hati", Dewa 19 mendefinisikan ulang musik populer Indonesia di milenium baru. Aransemennya menjadi lebih megah, sering kali melibatkan sentuhan orkestra dan sound yang lebih modern. Suara Once yang bertenaga mampu melayani aransemen rumit Dhani dengan sempurna. Album-album berikutnya seperti "Cintailah Cinta" (2002) dan "Laskar Cinta" (2004) semakin memantapkan status mereka sebagai band terbesar di Indonesia. Era ini adalah bukti kejeniusan adaptasi. Dewa 19 tidak hanya bertahan, mereka justru berevolusi menjadi lebih besar dan lebih megah.

Babak Ketiga & Keempat: Era Reboot - Virzha & Ello (2021-sekarang)

Setelah vakum cukup lama dan Once memutuskan bersolo karier, banyak yang bertanya, apa selanjutnya? Ternyata, kerajaan ini belum runtuh. Dhani kembali dengan strategi brilian: tidak hanya satu, tetapi dua "panglima" baru untuk proyek reuni dan konser, yaitu Virzha dan Marcello Tahitoe (Ello). Ini adalah langkah yang sangat cerdas.

Keduanya memiliki karakter yang kuat namun berbeda. Virzha, dengan suaranya yang serak dan ngerock, mampu membawakan lagu-lagu era Ari Lasso dengan napas yang segar namun tetap otentik. Sementara itu, Ello, dengan karakter pop-rock dan power-nya, sangat cocok untuk repertoar era Once. Alih-alih memaksakan satu orang untuk menyanyikan semua warisan, Dhani membaginya sesuai dengan kekuatan masing-masing vokalis. Hasilnya? Konser-konser reuni Dewa 19 menjadi sebuah perayaan lintas generasi. Para Baladewa dari era 90-an bisa bernostalgia, sementara generasi baru diperkenalkan pada katalog lagu abadi mereka melalui interpretasi yang modern. Ini bukan lagi tentang menciptakan karya baru, tetapi tentang merayakan dan melestarikan warisan yang sudah ada.

Warisan & Pengaruh Musikal: Mengapa Dewa 19 Begitu Penting?

Apa yang membuat sebuah band menjadi "berpengaruh"? Jawabannya terletak pada jejak yang mereka tinggalkan. Warisan Dewa 19 tidak hanya berupa puluhan lagu hits, tetapi juga perubahan cara pandang terhadap musik populer di Indonesia.

Pertama, keberanian dalam eksplorasi musik. Di saat banyak band terjebak dalam satu genre, Dewa 19 tanpa rasa takut memadukan pop, rock, jazz, fusion, bahkan sentuhan musik klasik dan etnik. Ahmad Dhani sebagai komposer utama tidak pernah takut untuk membuat aransemen yang kompleks dan tidak biasa untuk ukuran lagu radio. Hal ini membuka pintu bagi musisi lain untuk lebih berani bereksperimen.

Kedua, kualitas lirik. Lirik-lirik Dhani seringkali puitis, filosofis, dan multi-interpretasi. Ia mengangkat tema cinta ke level yang lebih sastrawi, seringkali meminjam inspirasi dari karya sastra atau tokoh dunia. Ini membuktikan bahwa lagu pop tidak harus dangkal. Lagu seperti "Roman Picisan" atau "Cinta adalah Misteri" adalah contoh bagaimana lirik bisa menjadi sebuah karya seni tersendiri.

Ketiga, standar produksi. Sejak awal, Dewa 19 menetapkan standar yang tinggi untuk kualitas rekaman dan produksi audio. Sound yang dihasilkan selalu terdengar "mahal" dan berkelas internasional, yang pada akhirnya mendorong band-band lain untuk lebih memperhatikan aspek teknis produksi musik mereka.

Keempat, dan yang paling krusial, adalah resiliensi dan kemampuan beradaptasi. Kisah pergantian vokalis mereka adalah studi kasus terbaik dalam manajemen band. Mereka membuktikan bahwa sebuah band adalah entitas yang lebih besar dari sekadar personelnya. Selama visi dan inti musikalitasnya terjaga, ia bisa terus hidup dan relevan.

Kekuatan & Tantangan Dinamika Internal

Kekuatan Abadi

  • Katalog Lagu yang Tak Lekang Waktu: Lagu-lagu Dewa 19 dari era manapun masih relevan dan enak didengar hingga hari ini. Ini adalah aset terbesar mereka.
  • Musikalitas Personel yang Solid: Di luar Dhani dan para vokalis, kehebatan Andra Ramadhan sebagai salah satu gitaris terbaik Indonesia, permainan bass Erwin Prasetya (almarhum) yang melodius, dan gebukan drum Tyo Nugros serta Agung "Gimbal" adalah pilar yang tak tergantikan.
  • Fanbase yang Militan (Baladewa): Loyalitas Baladewa adalah salah satu yang terkuat di Indonesia. Mereka tumbuh bersama band ini dan mewariskan kecintaan mereka pada generasi berikutnya.

Tantangan Dinamika Internal

  • Ego dan Visi Artistik: Seperti banyak band besar lainnya, tantangan terbesar seringkali datang dari dalam. Perbedaan visi dan ego antar personel menjadi penyebab utama perpecahan dan perubahan formasi. Ini adalah harga yang harus dibayar untuk kejeniusan kreatif yang terkumpul dalam satu wadah.

Verdict Akhir: Mengapa Dewa 19 Tetap Berdiri sebagai Monumen?

Jadi, setelah menelusuri perjalanan panjang mereka, haruskah kita terus merayakan warisan Dewa 19? Jawabannya adalah ya, tanpa keraguan sedikit pun. Dewa 19 bukan sekadar band; mereka adalah sebuah institusi budaya dalam musik Indonesia. Mereka adalah bukti bahwa kualitas, inovasi, dan kemampuan beradaptasi adalah kunci keabadian.

Kisah mereka mengajarkan kita bahwa sebuah karya besar bisa terus hidup melampaui para penciptanya. Dewa 19 salah satu band paling berpengaruh, dengan karya-karya legendaris dan vokalis yang bergantian, telah membuktikan hal tersebut. Mereka berhasil mengubah setiap krisis menjadi babak baru yang menarik, mengubah setiap perpisahan menjadi kelahiran kembali yang lebih megah. Bagi siapa pun yang mencintai musik Indonesia, mempelajari diskografi dan perjalanan Dewa 19 adalah sebuah keharusan. Ini bukan hanya mendengarkan lagu, tetapi menyaksikan sejarah yang sedang ditulis, nada demi nada.

Link copied to clipboard.